Semarang – centralpers – Rumah PoHan, yang berlokasi di Jalan Kepodang 64, Kawasan Kota Lama, Semarang, menyelenggarakan pembukaan pameran “DARI SEMARANG KITA MULAI: 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang pada Kamis, 15 Oktober 2026. Acara ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari komunitas pegiat sejarah, akademisi, hingga Legiun Veteran Republik Indonesia. Anggota DPR RI Komisi VII, Samuel J.D. Wattimena, turut hadir dan menyampaikan sambutan, sementara pameran secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Nur Huda Iskandar.
Pameran yang diselenggarakan oleh Rumah PoHan dan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang serta didukung oleh Prodi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang ini, bertujuan untuk mengajak masyarakat melihat kembali arti penting Pertempuran Lima Hari di Semarang, peristiwa yang berlangsung pada 15 hingga 19 Oktober 1945 dan menjadi bagian penting dari sejarah awal revolusi kemerdekaan Indonesia. Meski telah berlalu 81 tahun, peristiwa tersebut masih membutuhkan penggalian sejarah yang lebih mendalam, terutama mengenai tokoh-tokoh yang terlibat, dinamika perjuangan, serta pengalaman masyarakat yang menghadapi perang dengan latar belakang dan peran yang beragam.
Pemilihan judul pameran berangkat dari pernyataan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution yang menyebut Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia. Pernyataan tersebut menjadi pijakan untuk menempatkan Semarang bukan semata-mata sebagai lokasi berlangsungnya peristiwa bersejarah, melainkan sebagai salah satu titik penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Judul DARI SEMARANG KITA MULA/bersumber dari pernyataan Jenderal Besar A.H. Nasution yang menempatkan Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia. Kami ingin mengajak publik melihat kembali posisi penting Semarang dalam sejarah nasional. Dalam pameran ini, kami juga banyak menampilkan sumber-sumber lokal yang selama ini belum banyak digali, termasuk informasi mengenai tokoh-tokoh penting yang terlibat. di dalamnya. Kami berharap pameran ini dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian dan penelusuran sejarah yang lebih luas,” ujar Kesit Widjanarko, kurator pameran.
Melalui materi yang disajikan, pameran ini berupaya memperluas pemahaman mengenai Pertempuran Lima Hari, tidak hanya melalui kronologi pertempuran dan kisah perjuangan bersenjata, tetapi juga melalui beragam tokoh, jaringan organisasi, serta pengalaman masyarakat yang menjadi bagian dari peristiwa tersebut. Sejumlah tokoh dengan latar belakang berbeda, di antaranya R.M. Bambang Soeprapto, Ibnu Parna, K.R.M.T. Wongsonegoro, Mgr. Albertus Soegijapranata, dan Mr. Kasman Singodimedjo, turut diperkenalkan melalui narasi yang menempatkan peran mereka dalam konteks perjuangan kemerdekaan.
Pendekatan ini juga menekankan bahwa sejarah perang tidak hanya dibentuk oleh mereka yang bertempur di garis depan. Warga yang membantu menyediakan makanan, merawat korban, menyampaikan informasi, mengangkut kebutuhan perjuangan, hingga menyelamatkan keluarga dari kawasan berbahaya, turut menjadi bagian dari pengalaman sejarah kota. Dengan demikian, keberagaman masyarakat Semarang, baik. dari segi latar belakang sosial maupun budaya, ditempatkan sebagai bagian penting dalam memahami bagaimana warga menghadapi masa revolusi.
Sambutan Samuel J.D. Wattimena dalam pembukaan pameran turut menyoroti relevansi semangat perjuangan tersebut bagi masyarakat masa kini. Menurutnya, semangat rakyat Semarang dalam menghadapi Pertempuran Lima Hari perlu dimaknai kembali melalui tindakan yang sesuai dengan tantangan zaman.
“Semangat rakyat Semarang pada waktu Pertempuran Lima Hari di Semarang hari ini harus dimaknai ulang. Semangat itu perlu diwujudkan dalam bentuk yang lebih ekspresif dan bermanfaat bagi masyarakat. Perjuangan tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama seperti pada masa lalu, tetapi dapat diteruskan melalui berbagai upaya yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan bersama,” ujar Samuel J.D. Wattimena dalam sambutannya.
Apresiasi terhadap pameran juga disampaikan oleh salah seorang pengunjung, Gregorious Hendrawan Manurung. la menilai penyajian pameran berhasil mempertemukan pendekatan artistik dengan kedalaman materi sejarah yang disampaikan kepada pengunjung.
“Pameran di Rumah PoHan ini, selain secara artistik ditata dengan bagus, materi di dalamnya juga dinarasikan dengan baik sekali karena didahului oleh riset yang mendalam terlebih dahulu. Hal ini membuat pengunjung tidak hanya menikmati penyajian visualnya, tetapi juga dapat memahami konteks sejarah yang disampaikan,” ujar Gregorious.
Bagi Rumah PoHan, pameran ini bukan merupakan titik akhir dari upaya memahami Pertempuran Lima Hari di Semarang. Sebaliknya, pameran menjadi ajakan bagi sejarawan, akademisi, peneliti, arsiparis, seniman, budayawan, pemerintah, dan masyarakat untuk terus menggali sumber sejarah, mendokumentasikan kesaksian, serta mengembangkan berbagai bentuk pengetahuan dan karya kebudayaan yang berangkat dari sejarah lokal.
Melalui arsip, penelitian, buku, film, dokumenter, dan karya seni, sejarah Pertempuran Lima Hari dapat terus diperiksa, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.. Delapan puluh satu tahun setelah peristiwa tersebut, tantangannya bukan hanya menjaga ingatan tentang keberanian para pejuang, tetapi juga memberi ruang bagi pengalaman masyarakat yang selama ini belum banyak terdokumentasikan.
Pameran “DARI SEMARANG KITA MULAI: 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang” diselenggarakan di Rumah PoHan, Jalan Kepodang 64, Kawasan Kota Lama, Semarang, mulai 15 hingga 20 Oktober 2026. Melalui pameran ini, Rumah PoHan mengajak masyarakat menempatkan kembali sejarah Semarang dalam cakupan sejarah nasional sekaligus menjadikan ingatan masa lalu sebagai landasan untuk memahami kehidupan bersama hari ini.
(Chy/Kst)












